Jejak Pilu Vicarage Road: Nasib Starting XI Terakhir Ole Gunnar Solskjaer di MU, Siapa yang Bertahan & Siapa yang Terbuang?

ADMIN
0
Ole Gunnar Solskjaer di laga Manchester United vs Liverpool, Minggu (24/10/2021) (c) AP Photo

BOLANEWS – Dalam sejarah modern Manchester United, tanggal 20 November 2021 tercatat dengan tinta hitam pekat. Bukan karena Old Trafford runtuh, melainkan karena di Vicarage Road, kandang Watford, sebuah era yang dibangun di atas nostalgia dan harapan romantis akhirnya runtuh berkeping-keping. Itu adalah hari terakhir Ole Gunnar Solskjaer berdiri di *touchline* sebagai manajer Setan Merah.

Kekalahan telak 1-4 dari The Hornets bukan sekadar hilangnya tiga poin. Itu adalah sebuah pengumuman kematian bagi rezim "Baby Faced Assassin". Hujan kritik yang selama ini tertahan bendungan status legendanya, akhirnya jebol. Solskjaer dipecat kurang dari 24 jam setelah peluit panjang berbunyi, meninggalkan skuad yang secara mental hancur lebur.

Kini, tahun-tahun telah berlalu. Manchester United telah berganti nahkoda beberapa kali, mencoba menemukan identitas baru di bawah Erik ten Hag hingga era Ruben Amorim. Namun, pertanyaan menggelitik muncul di benak para suporter setia: Apa kabar 11 pemain yang menjadi saksi mata (dan pelaku) bencana di Vicarage Road tersebut? Di mana mereka sekarang? Apakah mereka berhasil bangkit, atau justru tenggelam dalam bayang-bayang kegagalan itu?

Mari kita bedah satu per satu jejak karir Starting XI terakhir pilihan Ole, sebuah perjalanan yang penuh dengan drama transfer, pengasingan, hingga kebangkitan di tanah asing.

Penjaga Gawang dan Benteng yang Runtuh

David de Gea: Legenda yang Terbuang

Di bawah mistar, berdiri David de Gea. Pada laga itu, De Gea sebenarnya melakukan dua penyelamatan penalti (satu diulang), namun tetap harus memungut bola empat kali dari gawangnya. Ironisnya, De Gea adalah pemain terbaik United di musim yang buruk itu. Namun, akhir ceritanya di Old Trafford tidaklah manis. Ia dilepas secara gratis pada musim panas 2023 setelah Erik ten Hag menginginkan kiper yang lebih modern.

Setelah setahun menganggur (sabbatical) yang penuh teka-teki, kiper asal Spanyol ini kini menemukan rumah baru di Serie A bersama Fiorentina. Di sana, ia kembali menunjukkan refleks kucingnya, membuktikan bahwa "habis manis sepah dibuang" adalah kesalahan besar manajemen United.

Aaron Wan-Bissaka: Tergeser ke London

Di sisi kanan, Aaron Wan-Bissaka tampil mengecewakan hari itu. Dikenal sebagai raja tekel, ia seringkali bingung saat harus membantu serangan. Setelah bertahan cukup lama di era Ten Hag sebagai pelapis, Wan-Bissaka akhirnya angkat kaki pada musim panas 2024. Ia kini berseragam West Ham United, mencoba membangun kembali reputasinya sebagai bek kanan defensif terbaik di Inggris.

Harry Maguire: Kapten yang Dilucuti

Malam di Watford adalah mimpi buruk bagi Harry Maguire. Kartu merah yang ia terima di babak kedua menjadi paku terakhir di peti mati Solskjaer. Maguire, yang kala itu masih menjabat kapten, menjadi simbol keterpurukan tim. Hari ini, Maguire masih bertahan di Old Trafford, namun statusnya telah berubah drastis. Ban kaptennya dicopot, posisinya digusur, namun ia menolak menyerah. Maguire kini menjadi simbol profesionalisme, berjuang dari bangku cadangan untuk merebut kembali tempatnya, meski rumor kepindahan selalu mengintai.

Victor Lindelof: Sang Penyintas Sunyi

Rekan duet Maguire, Victor Lindelof, juga masih bertahan di Manchester. Namun, bek asal Swedia ini kini hanyalah opsi keempat atau kelima di jantung pertahanan. Cedera dan inkonsistensi membuatnya jarang terlihat. Ia adalah sisa-sisa era Solskjaer yang mungkin tinggal menunggu waktu untuk dilepas demi penyegaran skuad.

Luke Shaw: Bakat Besar, Kaki Kaca

Luke Shaw adalah satu-satunya bek dari laga tersebut yang masih dianggap sebagai pemain inti *jika* ia fit. Masalahnya, kata "jika" itu terlalu besar. Shaw terus bergulat dengan cedera berkepanjangan yang membuatnya lebih sering berada di ruang medis daripada di lapangan. Posisinya kini terancam oleh bek-bek baru yang lebih bugar.

"Saya merasa sangat buruk untuk Ole. Dia memberi saya kesempatan kedua dalam karir saya. Melihatnya meminta maaf kepada fans di Watford dengan mata berkaca-kaca adalah momen terberat di ruang ganti kami. Kami mengecewakannya," kenang Bruno Fernandes dalam sebuah wawancara emosional beberapa bulan pasca kejadian.

Lini Tengah: Dispersi "McFred" dan Matic

Scott McTominay: Pahlawan Napoli

Di laga kontra Watford, McTominay berjuang sendirian karena absennya Fred. Gelandang Skotlandia ini adalah prajurit setia Ole. Namun, takdir membawanya pergi pada musim panas 2024. Dijual demi menyeimbangkan neraca keuangan (FFP), McTominay kini menjadi idola baru di Italia bersama Napoli. Di bawah asuhan Antonio Conte, ia bertransformasi menjadi gelandang *box-to-box* yang menakutkan, sebuah ironi bagi fans United yang melihat lini tengah mereka masih sering keropos.

Nemanja Matic: Petualang Veteran

Matic adalah jangkar tua yang sudah kehabisan bensin saat melawan Watford. Ia meninggalkan United di akhir musim tersebut untuk bereuni dengan Jose Mourinho di AS Roma, sebelum pindah ke Rennes, dan kini berlabuh di Olympique Lyon. Kelasnya masih ada, namun kakinya sudah tidak sanggup meladeni tempo Premier League.

Bruno Fernandes: Sang Kapten (Survivor)

Dari 11 pemain, Bruno adalah yang paling vital. Ia adalah satu-satunya pemain yang posisinya tak tergantikan dari era Ole hingga sekarang. Kini ia menjabat sebagai Kapten Utama. Bruno adalah saksi hidup transisi menyakitkan ini. Beban di pundaknya makin berat, dituntut untuk tidak hanya mencipta peluang, tapi juga memimpin mentalitas tim yang seringkali rapuh.

Lini Serang: Tragedi, Ego, dan Perpisahan

Jadon Sancho: Si Anak Hilang

Sancho dimainkan Ole dengan harapan besar di laga itu, namun ia gagal memberi dampak. Hubungan Sancho dengan United adalah kisah cinta yang beracun. Konflik terbuka dengan Erik ten Hag membuatnya diasingkan, dipinjamkan kembali ke Dortmund, dan kini nasibnya terkatung-katung di Chelsea (status pinjaman/pembelian). Potensi besarnya seolah layu sebelum berkembang di Teater Impian.

Marcus Rashford: Inkonsistensi yang Abadi

Rashford ditarik keluar di babak kedua laga Watford tersebut. Hingga detik ini, Rashford tetaplah Rashford: Kadang dunia kelas, kadang frustrasi. Ia masih menjadi andalan di sisi kiri, namun bayang-bayang inkonsistensi dari era Ole masih menghantuinya hingga hari ini. Ia adalah wajah dari United yang labil.

Cristiano Ronaldo: The GOAT yang Terluka

Dan di ujung tombak, ada Cristiano Ronaldo. Ia memberikan satu assist di laga itu, namun frustrasinya terlihat jelas. CR7 adalah alasan Ole sempat bertahan (berkat gol-gol penyelamatnya), namun juga menjadi dilema taktik. Akhir kisah Ronaldo di MU pasca-Ole sangat eksplosif: Wawancara kontroversial, pemutusan kontrak, dan kepindahan ke Al-Nassr di Arab Saudi. Ronaldo pergi dengan meninggalkan luka, menandai bahwa tidak ada pemain yang lebih besar dari klub.

Kesimpulan: Runtuhnya Sebuah Filosofi

Melihat kembali Starting XI terakhir Ole Gunnar Solskjaer memberikan kita perspektif yang jelas tentang betapa besarnya revolusi yang terjadi di tubuh Manchester United. Hampir separuh dari skuad tersebut telah dibuang. Mereka yang bertahan harus berjuang keras menyesuaikan diri dengan standar baru yang lebih tinggi.

Laga di Vicarage Road bukan sekadar kekalahan 1-4. Itu adalah momen di mana Manchester United dipaksa sadar bahwa nostalgia saja tidak cukup untuk memenangkan trofi. Puing-puing dari skuad itu kini tersebar di seluruh Eropa dan Timur Tengah, membawa cerita masing-masing tentang bagaimana rasanya gagal di klub terbesar di dunia.

Bagi Ole, mungkin ini adalah kenangan pahit. Tapi bagi sejarah, 11 pemain ini adalah penutup babak yang mengajarkan United arti penting sebuah sistem di atas kemampuan individu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default